Jawabannya terletak pada cara menilai seorang gelandang.
Penyerang biasanya dinilai melalui gol, expected goals, tembakan, dan efektivitas penyelesaian akhir. Gelandang dengan peran seperti Anderson harus dianalisis melalui lebih banyak indikator.
Beberapa aspek penting meliputi:
Anderson menunjukkan kontribusi dalam banyak area tersebut.
Catatan 304 ball recoveries menunjukkan aktivitasnya ketika tim kehilangan bola. Sementara 3.323 sentuhan memperlihatkan besarnya keterlibatan ketika tim menguasai bola.
Kombinasi tersebut lebih penting daripada sekadar melihat jumlah gol.
Elliot Anderson dapat digambarkan sebagai gelandang modern yang menggabungkan energi dan kemampuan teknis.
Ia bukan gelandang bertahan statis yang hanya menjaga area di depan bek tengah. Anderson juga bukan pemain nomor 10 tradisional yang menunggu bola di belakang penyerang.
Perannya lebih cair.
Anderson mempunyai kemampuan untuk menekan lawan secara agresif.
Work rate menjadi salah satu karakter yang paling sering dikaitkan dengan permainannya. Ia dapat mengejar bola, mempersempit ruang, dan membantu tim merebut penguasaan.
Dalam sistem yang membutuhkan pressing, pemain seperti Anderson sangat berguna.
Namun, pressing bukan sekadar berlari.
Pemain harus mengetahui kapan harus maju, arah menutup jalur operan, dan bagaimana posisi rekan setim memengaruhi keputusan.
Anderson juga nyaman membawa bola.
Kemampuan tersebut penting ketika menghadapi tim yang melakukan pressing tinggi. Alih-alih selalu mencari umpan aman ke samping atau belakang, gelandang dapat melewati lawan dan membuka ruang baru.
Catatan take-on berhasil menunjukkan bahwa Anderson mempunyai kemampuan dalam aspek ini.
Di Manchester City, kualitas tersebut bisa digunakan untuk memecah garis tekanan lawan.
Salah satu statistik paling menonjol Anderson adalah jumlah ball recoveries.
Kemampuan memenangkan kembali bola memungkinkan tim melanjutkan tekanan tanpa harus selalu turun ke blok pertahanan rendah.