Walaupun menghadapi berbagai dinamika, ISL tetap menjadi salah satu periode penting karena menjadi jembatan menuju sistem kompetisi profesional yang digunakan hingga sekarang.
Tahun 2016 menjadi masa transisi dalam sejarah sepak bola Indonesia. Ketika kompetisi resmi belum dapat digelar akibat konflik antara PSSI dan pemerintah yang berujung pada sanksi FIFA, lahirlah Indonesia Soccer Championship (ISC) sebagai solusi sementara agar aktivitas sepak bola nasional tetap berjalan.
ISC bukanlah pengganti permanen Liga Indonesia maupun Indonesia Super League. Kompetisi ini diselenggarakan untuk menjaga ritme pertandingan, memberikan kesempatan bermain bagi para pemain profesional, sekaligus mempertahankan antusiasme suporter yang sempat kehilangan tontonan sepak bola nasional.
Kompetisi tersebut dikelola oleh PT Gelora Trisula Semesta (GTS) dengan melibatkan klub-klub terbaik Indonesia.
Meski hanya berlangsung satu musim, ISC memiliki peran penting karena berhasil menjaga ekosistem sepak bola nasional tetap hidup hingga kondisi organisasi kembali normal.
Selain menjadi ajang kompetisi, ISC juga menjadi titik awal persiapan menuju format liga baru yang lebih profesional dan stabil. Hasil dari proses tersebut kemudian melahirkan kompetisi yang kini dikenal sebagai Liga 1.
Memasuki tahun 2017, sepak bola Indonesia memasuki babak baru dengan diperkenalkannya Liga 1 sebagai nama resmi kompetisi kasta tertinggi nasional. Identitas baru ini menandai dimulainya era kompetisi yang lebih profesional setelah berbagai dinamika yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Liga 1 lahir sebagai pengganti Indonesia Super League (ISL) dan menjadi simbol pembaruan tata kelola sepak bola Indonesia. Kompetisi ini berada di bawah naungan PSSI, sementara operasional liga dijalankan oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB).
Pemilihan nama “Liga 1” juga mengikuti tren penamaan liga di berbagai negara Asia. Jepang memiliki J1 League, Korea Selatan menggunakan K League 1, sementara Thailand memakai Thai League 1. Penamaan yang sederhana dinilai lebih mudah dikenali oleh masyarakat sekaligus memperkuat identitas kompetisi di tingkat internasional.
Dalam perjalanannya, Liga 1 terus mengalami perkembangan. Tidak hanya kualitas pertandingan yang meningkat, tetapi juga aspek penyelenggaraan, lisensi klub, hingga pemanfaatan teknologi dalam pertandingan.
Beberapa perkembangan penting pada era Liga 1 antara lain:
Persaingan di Liga 1 juga semakin menarik karena kualitas skuad setiap klub terus meningkat. Banyak klub mulai berinvestasi dalam pembinaan pemain muda, perekrutan pelatih berpengalaman, hingga pembangunan pusat latihan yang lebih modern.
Dalam beberapa musim terakhir, klub-klub seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Bali United, PSM Makassar, Madura United, Borneo FC, Dewa United, dan Arema FC menjadi tim yang rutin bersaing di papan atas klasemen.
Liga 1 kini bukan hanya menjadi kompetisi domestik, tetapi juga menjadi pintu bagi klub Indonesia untuk tampil di ajang antarklub Asia seperti AFC Champions League Two maupun AFC Challenge League, sesuai slot yang diberikan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Saat ini, nama resmi kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia adalah Liga 1. Nama tersebut mulai digunakan sejak musim 2017 dan masih dipakai hingga sekarang sebagai identitas utama liga profesional nasional.
Liga 1 merupakan kompetisi tertinggi dalam sistem liga sepak bola Indonesia. Di bawahnya terdapat Liga 2 dan Liga Nusantara yang menjadi jalur promosi bagi klub-klub dari kasta yang lebih rendah.
Struktur kompetisi sepak bola Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Sistem promosi dan degradasi membuat setiap klub memiliki kesempatan untuk naik ke kasta yang lebih tinggi maupun turun ke divisi di bawahnya berdasarkan hasil kompetisi setiap musim.
Dengan struktur tersebut, pembinaan pemain dan pengembangan klub dapat berlangsung secara berjenjang sehingga menciptakan persaingan yang lebih sehat.
Bagi yang masih bertanya “apa nama liga profesional nasional Indonesia?”, jawabannya adalah Liga 1.