Jakarta, Liescore96.com – Setelah 16 tahun absen, profil timnas Afrika Selatan kembali jadi perbincangan hangat di dunia sepak bola. Bafana Bafana julukan kebanggaan The South Africa national men’s football team resmi memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ini bukan sekadar lolos biasa. Ini adalah kebangkitan.
Kamu mungkin masih ingat bagaimana Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 dengan penuh kebanggaan. Kini, 16 tahun kemudian, mereka kembali ke panggung yang sama bukan sebagai tuan rumah, tapi sebagai peserta yang benar-benar layak.
Afrika Selatan memiliki histori yang cukup menegangkan di piala dunia 2026, berikut adalah perjalanan mereka:
Jalan menuju Amerika Utara tidaklah mulus untuk Bafana Bafana. Di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Afrika (CAF), Afrika Selatan tergabung di Grup C bersama Nigeria, Benin, Rwanda, dan dua tim lainnya.
Sempat terkena pengurangan tiga poin karena memainkan pemain yang seharusnya terkena skorsing (Teboho Mokoena), posisi mereka sempat terancam. Bayangkan sudah berjuang keras, tapi poin dicabut karena kesalahan administrasi.
Namun di laga pamungkas pada 14 Oktober 2025, Afrika Selatan tampil luar biasa. Mereka menggilas Rwanda 3-0 di Stadion Mbombela. Thalente Mbatha membuka skor di menit ke-5, Oswin Appollis menggandakan keunggulan di menit ke-26, dan Evidence Makgopa memastikan kemenangan lewat sundulan di babak kedua.
Di saat yang sama, Nigeria menghancurkan Benin 4-0 hasil yang justru membantu Afrika Selatan finis di puncak Grup C dengan 18 poin dari 10 laga. Tiket Piala Dunia pun terkunci.
Baca juga: Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2026 WIB
Piala Dunia 2026 akan menjadi penampilan keempat Afrika Selatan di turnamen terbesar dunia ini. Tiga edisi sebelumnya:
Dari tiga penampilan itu, Afrika Selatan selalu pulang di babak grup. Kini, dengan skuad yang lebih matang dan sistem taktik yang lebih solid, target mereka jelas: melampaui rekor sendiri.
Hasil undian menempatkan Afrika Selatan di Grup A bersama Meksiko, Korea Selatan, dan Republik Ceko. Tiga lawan yang berat, tapi bukan tidak mungkin untuk dikalahkan.
Meksiko hadir sebagai tuan rumah dengan keuntungan dukungan pendukung fanatik. Korea Selatan dikenal dengan disiplin tinggi dan stamina luar biasa. Republik Ceko membawa pengalaman Eropa yang solid. Afrika Selatan? Mereka datang dengan semangat dan tidak ada beban sebagai unggulan.
Untuk perjalanan kali ini mereka memilih pelatih yang cukup kompeten, mungkin ini bisa jadi gaya baru mereka untuk memenangkan pertandingan kali ini.
Nama Hugo Broos mungkin tidak sepopuler Pep Guardiola atau Carlo Ancelotti. Tapi di Afrika Selatan, dia adalah pahlawan.
Lahir di Belgia, Broos saat ini berusia 73 tahun dan telah melatih Afrika Selatan sejak 2021. Pria yang sudah malang melintang di dunia kepelatihan Eropa dan Afrika ini memiliki satu pencapaian paling berkilau di kariernya: membawa Kamerun menjuarai Piala Afrika (AFCON) 2017.
Ketika ditunjuk melatih Bafana Bafana, banyak yang meragukan. Tapi Broos membuktikan keraguan itu salah.
Hingga Maret 2026, dia telah memimpin Afrika Selatan dalam 55 laga dengan catatan defensif yang cukup impresif. Filosofinya sederhana: pertahanan yang solid adalah fondasi segalanya. Tim yang sulit ditembus akan selalu punya kesempatan menang.
Broos mengandalkan formasi dasar 4-2-3-1 yang fleksibel, bisa berubah menjadi 4-3-3 tergantung kebutuhan laga. Prioritasnya adalah:
Yang menarik dari Broos adalah keberaniannya mempercayai pemain muda. Beberapa nama yang sebelumnya tidak dikenal publik luas kini jadi tulang punggung timnas di bawah asuhannya.
Tentang lolosnya Afrika Selatan ke Piala Dunia, Broos pernah mengungkapkan dengan penuh emosi: “Di akhir karier saya sebagai pemain, saya berada di Piala Dunia. Sekarang di akhir karier saya sebagai pelatih, saya kembali mendapatkan kesempatan itu. Apa yang lebih fantastis dari ini?”