Jakarta, Livescore.Kalau kamu mengira Kanada hanya numpang lewat di Piala Dunia 2026, mungkin sudah saatnya kamu berpikir ulang. Profil Timnas Kanada Piala Dunia 2026 menunjukkan sebuah tim yang jauh lebih matang, lebih berbahaya, dan punya ambisi nyata untuk mencatat sejarah di rumah sendiri.
Ini bukan sekadar romantika tuan rumah. Les Rouges punya pemain-pemain yang bermain di level tertinggi Eropa, pelatih berpengalaman, dan motivasi yang membara setelah kegagalan pahit di Qatar 2022.
Di Qatar 2022, Kanada harus menelan pil pahit. Mereka kalah dari Belgia, Kroasia, dan Maroko, tanpa meraih satu poin pun di fase grup. Liputan6 Hasil itu jelas mengecewakan, tapi juga jadi bahan bakar.
Kini di Piala Dunia 2026, Kanada tampil dengan nuansa yang berbeda. Untuk pertama kalinya, mereka tidak perlu menjalani proses kualifikasi yang melelahkan.
Status sebagai tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Meksiko membuat Kanada otomatis lolos ke putaran final. Situasi ini memberi keuntungan besar dalam hal persiapan federasi sepak bola Kanada memiliki waktu lebih panjang untuk membangun tim yang solid dan kompetitif.
Tapi tentu saja, tekanannya juga beda. Bermain di depan publik sendiri artinya ekspektasi meroket.
Jesse Marsch diangkat jadi pelatih Timnas Kanada pada Mei 2024, usai berhenti melatih Leeds United. Pelatih asal Amerika Serikat ini dikenal dengan gaya bermain agresif dan pressing tinggi.
Marsch memiliki pengalaman melatih di Eropa, termasuk di Bundesliga dan Premier League bersama RB Leipzig dan Leeds United. Ia juga dikenal piawai dalam mengembangkan pemain muda, hal yang sangat relevan dengan kondisi skuad Kanada saat ini
Rekam jejaknya bersama Kanada sejauh ini cukup solid. Dari 29 pertandingan, Marsch membawa Kanada meraih 14 kemenangan, tujuh hasil seri, dan delapan kekalahan.
Marsch bukan sekadar pelatih taktis ia juga pembangun mentalitas. Dan di sinilah Kanada benar-benar membutuhkannya.
Baca juga: Profil Timnas Korea Selatan Piala Dunia 2026
Di posisi penjaga gawang, Kanada mengandalkan Dayne St. Clair (Inter Miami), Maxime Crépeau (Orlando City), dan Owen Goodman (Barnsley).
Di lini belakang, nama-nama seperti Alistair Johnston (Celtic), Richie Laryea (Toronto FC), dan Derek Cornelius (Rangers) menjadi andalan. Pemain muda seperti Moïse Bombito (Nice) dan Niko Sigur (Hajduk Split) turut menambah kedalaman skuad.
Di lini depan, Kanada diperkuat oleh Jonathan David (Juventus), Cyle Larin (Southampton), Tani Oluwaseyi (Villarreal), Aribim Pepple (Plymouth Argyle), Daniel Jebbison (Preston North End), dan Jacen Russell-Rowe (Toulouse).
Kombinasi pemain liga top Eropa dan Amerika ini mencerminkan betapa seriusnya Kanada membangun generasi emas mereka.
Davies bukan cuma pemain bintang. Ia adalah identitas Kanada di atas lapangan.
Bagi Kanada, Davies bukan sekadar pemain bintang; ia adalah mesin penggerak sekaligus tumpuan taktis tim nasional. Baik saat bermain sebagai bek sayap maupun didorong ke depan dalam formasi 4-4-2 andalan Jesse Marsch, kecepatan dan kontribusi ofensifnya nyaris mustahil untuk digantikan.
Satu catatan mengkhawatirkan: Davies sempat mengalami cedera saat membela Bayern Munich, memicu kekhawatiran besar menjelang turnamen. Proses pemulihannya menjadi fokus utama demi memastikan sang bintang siap tampil di panggung dunia.
Jonathan David adalah sang predator kotak penalti. Ketajaman David sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan setiap peluang yang tercipta.
Kini bermain bersama Juventus, David sudah membuktikan dirinya di level top Eropa. Ia adalah ujung tombak yang paling diandalkan Jesse Marsch.