Kontroversi Piala Dunia 2026 datang dari berbagai sisi, mulai dari format baru 48 negara, keputusan disiplin yang diperdebatkan, polemik wasit dan VAR, hingga pertandingan Argentina melawan Mesir yang menyeret nama Lionel Messi. Turnamen terbesar FIFA tersebut tidak hanya menghasilkan drama di lapangan, tetapi juga perdebatan tentang keadilan dan integritas kompetisi.
Salah satu kontroversi terbesar muncul setelah keputusan hukuman pemain Amerika Serikat dipersoalkan banyak pihak. Di sisi lain, format baru yang memungkinkan delapan tim peringkat ketiga terbaik lolos ke babak 32 besar kembali memunculkan perdebatan soal keuntungan jadwal dan keadilan kompetisi.
Lalu, apa saja daftar kontroversi Piala Dunia 2026 yang paling menyita perhatian? Berikut rangkuman fakta, latar belakang, dan penjelasannya.
Kontroversi Piala Dunia 2026 tidak hanya berkaitan dengan satu pertandingan atau satu pemain. Beberapa kasus menyentuh persoalan yang lebih besar, seperti konsistensi aturan disiplin, format kompetisi, pengaruh pihak luar terhadap sepak bola, hingga keputusan wasit yang diperdebatkan.
Penting untuk membedakan antara kontroversi yang sudah dilaporkan secara luas dan sekadar rumor media sosial. Berdasarkan perkembangan turnamen hingga 8 Juli 2026, beberapa isu utama yang paling banyak mendapat perhatian adalah sebagai berikut:
Tidak semua kontroversi mempunyai bobot yang sama. Ada kasus yang berkaitan langsung dengan regulasi turnamen, sedangkan kasus lainnya muncul dari keputusan pertandingan yang diperdebatkan oleh tim yang merasa dirugikan.
Salah satu kontroversi Piala Dunia 2026 yang paling serius berkaitan dengan keputusan disiplin terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Balogun mendapatkan kartu merah dalam pertandingan babak 32 besar melawan Bosnia dan Herzegovina. Secara normal, kartu merah tersebut berimplikasi pada larangan bermain dalam pertandingan berikutnya.
Namun, keputusan FIFA untuk menangguhkan larangan tersebut memicu reaksi keras. Balogun akhirnya dapat tampil dalam pertandingan babak 16 besar melawan Belgia.
Kontroversi menjadi semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah meminta Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meninjau kasus tersebut. FIFA menyatakan bahwa proses keputusan dilakukan melalui mekanisme badan yudisialnya, tetapi polemik telanjur berkembang menjadi isu tentang independensi dan konsistensi aturan disiplin.
UEFA kemudian memberikan kritik keras terhadap keputusan tersebut. Federasi sepak bola Belgia juga mempertanyakan situasinya karena Belgia menjadi lawan Amerika Serikat pada babak 16 besar.
Pada akhirnya, Balogun bermain dalam pertandingan tersebut, tetapi Amerika Serikat kalah 1-4 dari Belgia. Secara hasil, keputusan itu tidak menyelamatkan perjalanan tuan rumah, tetapi polemiknya tetap menjadi salah satu perdebatan terbesar selama turnamen.
Kasus Balogun kemudian berkembang dari persoalan kartu merah menjadi perdebatan yang lebih luas. Pertanyaan yang muncul adalah apakah seorang pemimpin politik boleh ikut meminta peninjauan terhadap kasus disiplin pemain.
Inilah yang membuat kontroversi tersebut berbeda dari perdebatan kartu merah biasa. Persoalannya tidak lagi hanya tentang apakah pelanggaran layak mendapatkan hukuman tertentu, tetapi juga tentang persepsi independensi badan sepak bola.
Reuters melaporkan adanya kritik luas setelah keputusan terhadap Balogun berubah, sementara FIFA mempertahankan posisi bahwa keputusan dibuat melalui proses yang independen. Polemik kemudian memicu pihak lain mempertanyakan apakah kasus berbeda akan mendapatkan perlakuan serupa.
Situasi semakin rumit ketika muncul dorongan agar pemain lain yang terkena hukuman mendapatkan perlakuan serupa. Politisi Inggris meminta adanya kejelasan terkait kasus bek Inggris Jarell Quansah, sementara federasi Inggris mempertimbangkan jalur banding.
Perdebatan ini menjadi penting karena konsistensi regulasi merupakan salah satu fondasi kompetisi olahraga. Jika keputusan dianggap berbeda antara satu pemain dan pemain lainnya, kepercayaan terhadap proses disiplin bisa ikut dipertanyakan.
Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama turnamen putra yang menggunakan format 48 peserta. Jumlah tersebut meningkat dari 32 tim yang digunakan sejak Piala Dunia 1998.
Turnamen juga berkembang menjadi 104 pertandingan. Sebanyak 48 tim dibagi ke dalam 12 grup, kemudian dua tim teratas dari masing-masing grup serta delapan tim peringkat ketiga terbaik melaju ke babak 32 besar.
Format baru tersebut mempunyai kelebihan. Lebih banyak negara mendapat kesempatan tampil, representasi geografis menjadi lebih luas, dan pertandingan fase gugur bertambah.