Kekalahan 2-3 tentu mengecewakan bagi Mesir. Mereka sudah sangat dekat dengan salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026.
Namun, penampilan Mesir menunjukkan bahwa tim tersebut mampu bersaing melawan juara bertahan.
Susunan pemain Argentina vs Mesir memperlihatkan dua pendekatan yang berbeda.
Argentina mengandalkan kombinasi pemain berpengalaman dan gelandang teknis. Sementara itu, Mesir memainkan struktur yang mampu memberikan ruang bagi Mohamed Salah dan Haissem Hassan untuk mengancam pertahanan lawan.
Berikut susunan pemain utama kedua tim.
Argentina: Emiliano Martinez; Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martinez, Nicolas Tagliafico; Enzo Fernandez, Rodrigo De Paul, Leandro Paredes, Alexis Mac Allister; Lionel Messi, Julian Alvarez.
Lionel Scaloni menempatkan Messi dan Julian Alvarez sebagai pasangan di lini depan.
Di lini tengah, Argentina mempunyai kombinasi pemain dengan karakter berbeda. De Paul memberikan energi, Enzo membantu distribusi bola, Mac Allister menawarkan kreativitas, sedangkan Paredes membantu menjaga ritme.
Mesir: Mostafa Shoubir; Mohamed Hany, Yasser Ibrahim, Ramy Rabia, Karim Hafez; Mohanad Lashin, Emam Ashour, Marawan Attia, Mostafa Zico; Mohamed Salah, Haissem Hassan.
Mesir menempatkan Salah di lini depan bersama Haissem Hassan.
Pendekatan tersebut terbukti memberikan ancaman dalam transisi. Mesir mampu menyerang ruang di belakang pertahanan Argentina dan menciptakan sejumlah situasi berbahaya.
Skor Argentina vs Mesir memperlihatkan pertandingan dengan perubahan momentum yang ekstrem.
Argentina gagal memanfaatkan penalti pada babak pertama, sempat tertinggal dua gol, kemudian mencetak tiga gol pada fase akhir.
Beberapa fakta penting dari pertandingan ini adalah:
Statistik tersebut memperlihatkan bahwa pertandingan tidak berjalan satu arah.
Mesir mampu memberikan masalah besar, sementara Argentina menunjukkan kemampuan bertahan dalam situasi paling sulit.
Kemenangan 3-2 tidak hanya membawa Argentina ke babak berikutnya.
Hasil tersebut juga menjadi ujian mental penting bagi skuad Lionel Scaloni.
Argentina sebelumnya juga mendapatkan pertandingan sulit pada fase knockout. Karena itu, kemenangan atas Mesir kembali memperlihatkan bahwa perjalanan mempertahankan gelar tidak berjalan mudah.
Tim Tango memiliki kualitas besar, tetapi pertandingan fase gugur menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknik.